Oleh
Hafizah N, Irvan, Novi L, Wahyu W.
26 April 2020
Hakikat Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS)
1. Hakikat IPTEK
Menurut Elfan (2019: 68), Ilmu adalah pengetahuan yang rasional, sistematik, komfrehensif, konsisten, dan bersifat umum tentang fakta dari pengamatan yang telah dilakukan.
Ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu. (Elfan, 2019 : 70).
2. Hakikat Seni
Dalam Ensiklopedia Indonesia, seni diartikan sebagai penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), penglihatan (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama).
Keutamaan Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an
Suja’i Sarifandi (2014) menuliskan, keutamaan ilmu di sisi Allah SWT., dapat disimak pada awal mula penciptaan manusia. Para malaikat diperintahkan Allah untuk bersujud (menghormat) kepada Adam, karena Adam mampu menceritakan nama-nama (ilmu) yang diajarkan Allah dan malaikat tidak mempunyai kemampuan untuk itu (Q.S. Al-Baqarah: 30-34).
Demikian tingginya kedudukan ilmu, sehingga penuntutnya untuk kepentingan agama disejajarkan kedudukannya dengan nabi-nabi. Oleh karenanya orang yang mau bersungguh-sungguh belajar ilmu agama sampai ia memahaminya menjadi pertanda bahwa Allah menghendaki kebaikan kepada dirinya.
Teori - Teori Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS)
Era keemasan Islam, para cendekiawan Muslim telah mengelompokkan ilmu-ilmu yang bersifat teknologis. Para penguasa dan masyarakat di zaman kekhalifahan islam menempatkan para rekayasawan dalam posisi yang tinggi dan terhormat. Banyak ilmuwan muslim sampai sekarang penemuannya masih menjadi rujukan sebagai dasar perkembangan pengetahuan modern, seperti Al-Kindi dikenal sebagai fisikawan adalah seorang rekayasawan, selain itu juga ada Al- Razi seorang ahli kimia dan Al-Biruni sebagai Astronom. (Ariyadi, 2018: 6).
Ayat Al-Qur’an dan Hadist yang Relevan
Sayid (2011: 1341) menuliskan, hadist-hadist nabi sangat banyak yang mendorong dan menekankan, bahkan mewajibkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Menuntut ilmu itu suatu kewajiban kepada setiap muslim” (HR. Ibnu Majah).
Allah telah meletakkan garis-garis besar sains dan ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an, manusia tinggal menggali, mengembangkan konsep dan teori yang sudah ada. Sebagaimana dalam Q.S Ar- Rahman ayat 33 :
“Hai Jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintas) penjuru langit dan bumi, maka lintaslah, kamu tidak tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan“.” (Q.S. Ar-Rahman : 33).
Referensi :
- Sarifandi, Suja’i. (2014). Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Hadis Nabi. JURNAL USHULUDDIN, Vol. XXI No. 1, 62-82.
- Qutub, Sayid. (2011). Sumber-Sumber Ilmu Pengetahuan dalam Al Qur'an dan Hadist. Humaniora, Vol.2 No.2, 1339-1350.
- Khomaeny, Elfan. Fanhas. (2019). Islam dan Ipteks. Jawa Barat : Edu Publisher.


0 Komentar